0

LUCKY

“I’m feeling like… I’ve been trying hard but still all you got is my weakness. Aku suka marah-marah, bentak-bentak, ngasih tau waze suka telat, ceroboh, ga sabaran, banyak maunya,..”

He’s nodding his head

“…suka berubah-ubah, nanyanya diulang-ulang,…”

“Apalagi?”

“banyak. Meanwhile you??? How could you be so understanding?”

“Semua yang kamu sebut itu, ya itu “Mey”. Dan I’m falling in love with Mey. Aku udah maunya sama kamu, dan di tahap ini aku udah sama sekali ngga mempermasalahkan itu. Aku menyesuaikan kamu. Kamu mau kaya gimana pun fokus aku udah bukan lagi nanya, “kok Mey gini ya, kenapa dia begitu ya, nina ninu.” Aku selalu mikir solusinya, gimana caranya untuk mempertahankan ini, biar kita bisa bareng-bareng terus.”

Kemarin waktu acara piknik sekantor, saya 1 dari segelintir orang yang dapet door prize untuk kedua kalinya. Door prizenya TV 32”. Tahun lalu juga dapet itu. Temen-temen kantor bilang saya orang yang beruntuuung banget.

Sekarang, setelah saya denger pacar saya bilang begitu, saya baru sadar. Iya, saya beruntung banget. Saya beruntung banget dapet TV 32” 2 kali berturut-turut. Tapi my utmost reason why I’m feeling so lucky is.. I have him.

I love you, beb.

Advertisements
0

Note to myself:

Dear Mey,

Jangan buru-buru. Yang kamu kejar masih di situ. Kamu sudah bangun lebih pagi dari kemarin, jadi, ngga perlu buru-buru. Take all the time you need. Do all the things you have to do. Look in the mirror well before you go. Take a deep breath, smile, then go make a day.

You don’t have to take care of everything you see. Harus dipilih-pilih. Sumber daya mu terbatas, dan kamu harus bisa atur ulang prioritasmu. In the truest word: ngga semuanya worth your time.

It’s really ok to do what you really want to do.

It’s ok nanya-nanya aja trus ngga jadi beli.

It’s ok to spoil yourself.

Jangan keseringan minum chatime, makan bebek, padang dan sop kambing.

It’s ok to do nothing. Apalagi di weekend. It is really ok. You need a good break, after all.

Istirahat yang tenang. Ngga usah bangun kaget-kaget terus.

And remember: you truly can be anything. Just make sure “kind” is always in the list.

0

24

Sambil macet-macetan barusan ini, sambil dengerin lagu Kids nya Rich Brian, sambil angguk-angguk berusaha nikmatin lagunya, sambil kepalaku juga muter mikirin what to do besok, and the day after. Sambil mikirin gimana caranya biar semua to do list untuk besok,  ya, selesainya juga besok. Supaya ngga ada yang ditunda-tunda lagi, supaya ngga jadi bola salju yang nggulung makin lama makin besar.

And it led to another thought: how much things have you sacrificed to make your 24 hours a day worth every second?

We all have the same 24 hours. The things we do in those 24 hours differentiate one from another. In those 24 hours we (think) we have it on our own, we still have to share it. Berapa banyak yang dipakai untuk istirahat, berapa yang untuk menyenangkan orang lain, berapa yang untuk menjadi orang lain, dan terakhir, berapa yang benar-benar dipakai pure untuk diri sendiri. Hal apa saja yang kita pilih untuk kita lakukan, dan yang tidak.

Dan sambil macet-macetan juga, saya mulai ngedaftar apa aja hal yang saya pilih untuk tidak saya lakukan di 24 jam saya yang dulu-dulu. Apa saja yang saya abaikan untuk tetap fokus. Siapa saja yang saya tolak tawarannya. Alasan apa yang saya gunakan untuk tetap merasa baik-baik saja walaupun sudah menolak. Berusaha menempatkan diri saya kembali ke saya yang dulu, kepikiran, dulu sempet berasa nyesel ngga, ya?

Muncul kembali pikiran lain. The most dangerous one: “What if?”

“What if I said yes to those offerings?”

Surely I wouldn’t be where I am now.

“Would everything become easier then?”

Ngga ada yang tau, dan sepertinya ngga bisa dicari tau juga. Whatever passed, stays in the past. Ngga bisa juga kelamaan dipikirin what ifs nya, dan the answer of those, karena makin dipikir, again, your 24 hours is running low.

Dan juga udah mulai lancar jalanannya, and I had to keep moving forward.

Tapi tetep lanjut. Saya puter sedikit pov nya. Why focusing on what we don’t have?

Saya mikir lagi, apa aja yang saya dapat karena sudah menolak tawaran-tawaran itu. Apa saja yang dari dulu sudah saya anggap jauh lebih penting dan lebih keren daripada yang saya tolak-tolakin. How my decisions have made me so far.

Dan sejauh ini, I believe I made it. Yang saya lakukan sejauh ini semuanya membentuk saya dengan baik, sebaik yang saya butuhkan. Semua yang saya pilih dari 24 jam saya yang dulu-dulu itu masih “ada”. Ada yang bener-bener masih ada di samping saya dan being my most reliable support system. Ada yang masih ada efeknya sampai detik ini (and keep going).

It is what I believe it has. Dan lagi, saya sangat (amat) bersyukur saya sudah memilih jalan yang ini. Walaupun sudah banyak juga yang saya tolak (dan kadang masih menggoda), saya bersyukur untuk apa yang masih ada di hidup saya sampai detik ini, karena saya dulu memilih ini, dan sekarang juga, malah terlebih lagi saya lagi jalan dan juga menikmati hasil-hasilnya.

Akhirnya, sampai juga ke rumah.

0

5 days

Random things I heard for these past weeks that keep ringing in my head:

  1. “You are truly a very kind girl, Mey” – once I (for the first time ever) tried not to ghosting someone.
  2. “Kalo ragu, mending ngga usah curhat. Nanti nyesel.” – Once I told my friend I want to curhat but still hesitated. This small talk moved me…. Made me know this person really is my good friend, bukan cuma kepo-kepo aja. Ya akhirnya ngga jadi curhat, sih.
  3. “Even though it’s business, this wouldn’t happen if you didn’t have the skill” – when I refused someone’s thank you to me because I got paid from what I did to him.
  4. “I wanna be like you when I grow up” – my little niece.
  5. “No. Not yet.”
  6. “No.” – after I ask him whether I have a second chance or not.

 

It’s amazing how we can set ourselves into anyone. Becoming not only into someone we want to –but also someone we never know we could. Transforming into someone so different, so same, and also into the very person we used to hate before.

How we can change into a completely different person just after a massive heart break. And into another different one once we fall in love (oh, or is it just us misperceive it?) –so deep.

How we can work for another hour, and another one, and oh please one hour more, just so you can save more to build your dream together. And how we can sleep soooo tightly knowing that tomorrow there will be more hours to be filled with works.

How our level of tiredness isn’t the same as how it used to be. We move our limit further away. We doubled our patience. We stake up our expectations, build our hopes, just to burn everything down once one wrong move is made.

How we can get everything, yet still fell nothing.

And when all the doubts rise up, filling our head with nothing but fear, we start questioning every-single-thing. Is this the right thing to do? Is it worth it?

Am I really doing the right thing?

But then, is it necessary to be right? Or I am satisfied enough to be just happy?

Am I?

 

 

(it took me 5 days to finish this post, started from the very first letter until the time i decided to post it. this is the longest time i’ve ever needed to make one single post)

 

0

You’ve survived!

That someday.. whenever you feel there’s no way out no matter how hard you’ve tried, whenever you feel you are all alone and no one understands you.. when all you can do is sitting in the corner, with the tv you turned on but you didn’t watch, slowly thinking about unfinished things around you and… cry in the silence.

Well, shit happens. It does. A lot of times. And you’ve faced so many before. You’ve been in this situation times before. If you think this time is the worst one, well, so did the last one, right? And the one before the last. And the one before it too, and the other ones.

And here you are. However your condition is, you survive.  No matter how hard you’re sobbing right now, you are alive. You’ve passed through everything before, and you definitely will pass this one too.

0

tHank You, tHank you.

Di saat-saat seperti ini.. Bersyukur bangeeeeet punya temen-temen sebaik itu. Beneran sebaik itu. Walaupun curhatnya itu-itu aja, masalahnya ga berkembang jauh, tetep mau dengerin, tetep mau kasih nasihat.

Di saat-saat seperti ini…. bersyukuuuuur banget ada di where I am now. Bisa kerja, bisa sibuk, bisa nabung, bisa bayar cicilan, bisa bayar tagihan, bisa tau yang mana yang perlu dan ngga. Bisa sesekali jajanin mama chatime. Bilang “yuk” kalo doi udah kode kepengen makan sesuatu. Bisa ngeluh jalanan macet, bisa ngeliat orang pagi-pagi berlomba-lomba buat sampe ke kantor atau pergi ke sekolah.

Di saat-saat seperti ini…. Bersyukuuuuuur bukan main ga terus-terusan dengak. Masih bisa lihat ke bawah. Masih bisa deg-degan tiap keceplosan ngomong. Masih bisa nyesel, masih bisa minta maaf, masih bisa marah-marah ke murid, masih bisa ngingetin kerjaan orang lain.

Juga masih bisa ketawa, masih bisa lari, lompat-lompat, makan risol isi bihun, request jajanan, nyanyiin happy birthday

Masih bisa punya mimpi, masih bisa mikir step-stepnya buat kesitu. Wujudin pelan-pelan satu-satu. Akhirnya paham kalau ngga ada yang instan. One thing happens as another.

Masih bisa bersyukur karena,

Masih ada kamu.

*and just decided to delete the last part of this post. Because.. why dont we focus on what we have now? Why dont we stop worrying for a second and just breathe deep? Why dont we just, being thankful? Why dont I?*

0

Reka

Di hari itu, ada yang bilang saya berisik. Di hari yang lain, orang yang sama bilang saya harus bisa lebih jadi lebih ramai.

Di hari satunya lagi, ada yang bilang saya banyak makan. Lalu ketika saya menolak tawarannya karena kenyang, saya dibilang bukan saya.

Di hari yang kemarin, ada yang bilang saya gendut. Iya, kamu ga salah baca. Ada yang bilang saya gendut sambil melihat saya dari atas sampai bawah. Hanya selang beberapa hari setelahnya, ada yang bilang saya kurus, sangat kurus. Sambil menambahkan, “lagi stres banget ya?”

Beberapa hari sebelumnya, ada yang bertanya ke saya, “do you like being who you are now?” And I said, “yes.”, as I truly was happy at the moment. Lalu dia bilang, “dont expect anything just because you do what you do now.” And i said, “no, I simply just do what I want to do, with as big as a zero expectations.”

Lalu keesokan harinya, dia bilang ke orang-orang kalau saya sebenarnya berharap dan dia sudah menasihati saya untuk tidak.

Hehehe.

Saya hanya menulis apa yang menurut saya agak menggelitik. Tidak semua yang kita dengar itu baik, tidak berarti juga semuanya jahat. Ada beberapa orang yang memang lebih nyaman berkomentar tentang orang lain dengan tambahan kalimat seperti yang diatas, tanpa peduli apa itu bisa menyakiti orang yang mendengar atau tidak. Tanpa menjawab pertanyaan ini: apa yang saya ucapkan penting dan bermanfaat?”

Beberapa orang suka membentuk reka adegan di otaknya, bahkan sebelum waktu berjalan ke arah adegan tersebut. Ada yang sudah punya jawaban (yang dia pikir) dari lawan bicaranya di otaknya, dan dia bahkan belum bertanya. Ada yang sudah mendengar jawaban dari lawan bicaranya, dan tetap merasa bahwa yang di otaknya lebih benar. Ada yang merasa kalau jawaban iya berarti bukan iya. Ada lapisan lain di bawahnya. Padahal ada yang sesederhana itu. Iya adalah iya. Dan padahal ini juga bukan tentang eksak. Ini tentang pendapat dan pilihan orang lain.

Saya beranggapan bahwa kita punya andil dalam menciptakan lingkungan sosial yang kita tinggali. Karena tentu saja kita bisa mendengar hanya apa yang mau kita dengar. Kita hanya bisa memikirkan apa yang kita mau pikirkan. Kita bisa memilih apa yang kita mau. Kontrol sepenuhnya ada di tangan kita masing – masing. Tinggal mau diarahkan kemana?

Sekaligus pengingat bagi diri sendiri, bahwa yang terjadi di kepala saya belum tentu yang sebenarnya dan benar. Bahwa tidak semuanya hanya ada benar dan salah. Ada jangkauan tertentu di antaranya yang isinya adalah semua pemikiran, sifat, tingkah laku, yang terbentuk karena alasan. Ada itu.